Dalam hal ini, orang yang memimpin zikir tanpa ilmu patut diwaspadai tergelincir dalam kesalahan dan yang paling fatalnya adalah jatuh dalam kesesatan. Nauzubillah. Bagaimana tidak, seseorang yang memimpin zikir itu tidak akan melulu berbicara masalah zikir. Akan ada masanya dia akan berbicara masalah hukum, tauhid, atau bidang ilmu lainnya. Mungkin dia tidak ingin berbicara masalah itu, karena dia menyadari dia tidak punya kemampuan. Tapi masyarakat tidak menyadari itu semua, dalam pandangan mereka, orang yang memimpin zikir itu sudah pasti orang yang sangat alim dan bisa ditanyakan apa saja. Nah, pada situasi ini, sangat sulit untuk bertahan.
Misalnya seseorang bertanya, "Syaikh, bagaimana hukum air sumur yang terjatuh bangkai?" Karena kita yang tahu hanya berzikir, ya kita akan menjawab, "Maaf saudara, saya tidak tahu. Nanti akan kita tanyakan kepada ulama." Nah, bila kita mempunyai jamaah ribuan, dan bahkan puluhan ribu, apakah mungkin untuk selalu menjawab "tidak tahu, nanti kita tanyakan"? Pasti suatu saat kita akan memberanikan diri untuk menjawabnya, setidaknya pada sesuatu yang kita anggap betul. Pada mulanya ya masalah yang ringan, tanpa sadar sedikit demi sedikit kita akan berani menjawab pada masalah yang lebih berat, yang bukan kapasitas ilmu kita. Bila sudah sampai tahap ini, mulai lah petaka akan muncul. Setan sudah mendapatkan kita.
Anda bisa membandingkan diri sendiri, misalnya anda orang tua, setiap hari anak anda bertanya pada anda tentang sesuatu yang tidak diketahuinya. Apakah Anda akan selalu menjawab "tidak tahu" karena memang Anda menyadari bahwa Anda benar-benar bodoh? Tentu saja suatu saat Anda akan menjawabnya, karena takut mereka tidak akan bertanya lagi dan berpaling dari Anda.
Begitulah halnya bila Anda sudah punya banyak jamaah yang sangat mengelu-elukan Anda. Di saat mereka sudah pada tahap itu, bagaimana mungkin mereka tidak bertanya tentang masalah apa saja pada Anda? Bahkan sampai ayam mereka yang sakit pun akan mereka tanyakan obatnya. Begitulah masyarakat awam umumnya, asalkan bisa berpidato sedikit, bacaan al-quran fasih, sanggup memimpin doa-doa, mereka akan menganggapnya seorang ulama. Apalagi bila Anda dapat membuat mereka menangis tersedu-sedu. Mereka akan menumpahkan segala masalah mereka pada Anda. Jika setiap hari Anda hanya menjawab tidak tahu, dalam dua bulan jamaah Anda akan tutup. Dijamin. Karena mereka tidak punya banyak waktu untuk dihabiskan bersama orang yang hanya bisa menjawab pertanyaan mereka "tidak tahu".
Bila jamaah kita sudah banyak, itu pasti karena kita sudah banyak berbicara di hadapan mereka, dan mampu memuaskan mereka terhadap permasalahan yang mereka hadapi. Peduli itu benar atau salah. Pertanyaannya, apakah mungkin kita tidak tercebur dalam kesalahan bila tidak punya ilmu yang memadai?
Bahkan ulama yang sangat alim sekalipun tidak tahu semuanya, apalagi kita yang menuntut ilmu agama secara tanggung. Atau masih memahami kulitnya tanpa memahami isinya.
Itu hanya berbicara antara kita pemimpin zikir dengan jamaah, belum berbicara tentang mudahnya setan menipu seorang abid tanpa ilmu...
Masih banyak bahaya lainnya yang tidak penulis sebutkan dalam tulisan ini, insyaAllah dalam kesempatan yang lain.
Kesimpulannya,, menurut perkataan para guru, sebaiknya kita tidak menjadi tokoh agama bila tidak mempunyai ilmu. Walau itu sebatas memimpin zikir. Ibarat hanya mampu berenang secara pas-pasan, tapi sudah berharap menyelamatkan ribuan orang tenggelam. Apakah bisa?
Pada artikel yang lain kita akan membahas bahwa ilmu agama itu harus didapat dari menuntut kepada guru, tidak cukup dengan membaca dan mengkaji sendiri. Apalagi hanya dengan mengunjungi dan mencium tangan mereka, sudah pasti lebih-lebih tidak cukup. Wallahu 'alam...

0 Response to "Bahayanya Memimpin Zikir Tanpa Ilmu Agama yang Memadai"